Ca Ovarium, The Silent Lady Killer  

Minggu, 22 Juni 2008

Kangker tentu tidak ada seorangpun yang ingin didiagnosa menderita penyakit tersebut. Akan tetapi seiring dengan gaya hidup yang semakin modern, frekuensi kemungkinan seseorang terkena kanker semakin besar. Salah satu kanker yang paling sering muncul pada wanita adalah kanker indung telur atau carcinoma ovarium. Kanker ini sulit dideteksi secara dini dan sering baru dideteksi ketika sudah menyebar ke organ tubuh lainnya. Pasien baru merasakan gejala yang membuatnya berobat ke dokter, namun hal ini sudah terlambat sehingga angka kematian menjadi lebih tinggi. Kanker ini disebut juga the silent lady killer karena merupakan penyebab kematian tertinggi pada wanita.

Ovarium adalah sepasang organ berbentuk buah almond yang terdapat di samping rahim wanita, di dekat dinding samping panggul, dan berada pada lapisan belakang ligamentum latum di belakang bawah dari saluran telur/tuba falopi. Ovarium memiliki panjang 2,5–5,0 cm dan lebar ± 1,5–3,0 cm. Ovarium terdiri dari bagian luar yang disebut cortex dimana terdapat gamet (bakal sel telur) dan bagian dalam yang disebut medulla yang banyak mengandung pembuluh darah besar dan saraf.

Secara garis besar, ovarium berfungsi sebagai :

- penghasil ovum/sel telur yang bila dibuahi oleh sperma akan berkembang menjadi calon janin

- penghasil hormon estrogen dan progesteron yang penting bagi perkembangan fisiologi normal wanita.

Kanker indung telur dapat mengenai semua wanita dari segala umur, mulai dari usia 20 hingga 80 tahun, jarang terjadi pada wanita dibawah 21 tahun. Delapan puluh persen kanker muncul pada usia diatas 40 tahun dan bila kanker muncul sesudah menopause maka hampir tiga puluh persennya adalah ganas. Kanker pada indung telur kebanyakan berasal dari sel epitel ovarium pada bagian korteks, dapat bersifat jinak, borderline, atau ganas tergantung dari seberapa jauh perbedaan antara sel asal dengan kanker (metaplasia). Berdasarkan asal sel kanker, kanker ovarium dapat dibagi menjadi :

- kistadenoma serous

- kistadenoma musinosum

- endometrioma

- mesonephroid clear cell

- fibroma termasuk tumor benner

- kista dermoid

- tumor campuran

- kanker yang tak terklasifikasikan

Kanker indung telur sering dihubungkan dengan wanita dengan angka melahirkan yang rendah dan infertile/tidak subur. Hal ini berkaitan dengan proses ovulasi lepasnya sel telur ke rahim) dalam indung telur. Pada lapisan korteks, gamet mengalami perkembangan untuk menjadi matang dan siap dilepaskan ke rahim dan hal ini terjadi setiap bulannya. Teorinya perubahan epitel korteks secara terus menerus untuk mematangkan gamet dapat memicu terjadinya mutasi spontan yang pada akhirnya menimbulkan kanker pada indung telur. Pada wanita yang hamil, proses ini terhenti untuk ± 9 bulan sehingga resiko kanker semakin turun. Faktor lain yang dapat meningkatkan resiko kanker adalah :

- menstruasi yang terlalu awal

- menopause yang terlalu terlambat.

- Factor genetic dimana dikatakan resiko tinggi terkena kanker ovarium bila ada mutasi pada gen BRCA 1 dan gen BRCA 2.

- Riwayat pernah menderita kanker payudara atau kanker lainnya pada usia muda.

- Sindroma Lynch II.

- Tidak pernah melahirkan

- Melahirkan pertama kali pada usia > 35 tahun

Gejala dan tanda pada kanker indung telur ini biasanya tidak ada (asimptomatik) untuk periode yang lama dan kalaupun muncul biasanya tidak spesifik. Pada stadium awal penyakit, gejala yang mungkin muncul antara lain :

- mengalami menstruasi yang tidak teratur seakan-akan sedang dalam masa akan menopause.

- Jika massa kanker menekan kandung kemih atau rectum maka akan timbul keluhan keinginan miksi bertambah atau sembelit.

- Mungkin timbul kembung atau sensasi seperti perut tertekan

- Nyeri, misalnya seperti nyeri saat melakukan hubungan seksual

Pada stadium lanjut, gejala yang muncul biasanya berkaitan dengan penyebaran kanker ke organ lain seperti:

- kembung

- cairan pada rongga perut (ascites)

- konstipasi (susah buang air besar)

- mual dan muntah

- wanita menjelang menopause mungkin mengeluh menstruasi yang tidak teratur dan banyak.

Tanda pasti Anda dapat mencurigai adanya kanker indung telur adalah bila teraba adanya massa (benjolan) pada panggul yang keras, tidak tegas batasnya, tidak dapat digerakkan dan bilateral, apalagi bila massa teraba hingga perut bagian atas dan ada gejala perut kembung berisi air (ascites) maka dapat dicurigai bahwa ini adalah kanker ganas. Tapi bila massa kistik (kenyal), mudah digerakkan, batasnya tegas, dan unilateral maka dapat diduga ini kanker jinak. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memastikan adanya kanker ovarium antara lain :

  1. pemeriksaan serum CA 125. Serum CA 125 merupakan tumor marker yang dapat digunakan untuk memisahkan antara kanker yang ganas dengan jinak. Akan tetapi pemeriksaan ini lebih akurat pada wanita yang telah mengalami menopause, sedangkan pada wanita yang belum menopause hasilnya diragukan.
  2. pada wanita yang belum menopause, pemeriksaan yang mungkin membantu adalah penggunaan kontrasepsi oral untuk menekan hormon kemudian dilakukan pemeriksaan berkala 2 bulan sekali. Bila massa mengecil maka itu bukan kanker dan juga sebaliknya.
  3. USG transvaginal dapat berguna untuk menemukan massa kanker di ovarium serta ganas atau tidaknya kanker.
  4. CT-scan atau MRI dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh kanker menyebar dan lokasi kanker.
  5. laparoskopi diagnostik merupakan pemeriksaan pasti untuk dapat menentukan keganasan kanker. Indikasi untuk melakukan laparoskopi antara lain :

o massa ovarium > 7 cm

o pembesaran ovarium pada masa menopause atau 1 tahun sebelum menstruasi

o pasca pemberian kontrasepsi hormonal

o tumor bilateral (kecuali kista theca lutein)

o tumor keras

o gejala torsi (tumor terputar) atau rupture (tumor pecah)

o ascites

Terapi atau pengobatan yang dapat dilakukan pada kanker ovarium sangat tergantung pada stadium kanker dan kondisi pasien saat akan dilakukan terapi. Bila kanker masih kecil dan belum menyebar maka terapi yang paling tepat adalah operatif, tapi bila sudah menyebar maka dapat dikombinasikan dengan radiotherapy (penyinaran) dan chemotherapy sesuai dengan kebijakan dokter yang menangani Anda. Hal yang lebih penting adalah second-look laparotomy yaitu tindakan operasi setelah operasi pertama untuk memastikan bahwa tidak ada sel-sel kanker yang tersisa di ovarium dan melihat respon tubuh terhadap pengobatan.

Adapun langkah-langkah untuk mengurangi resiko terkena kanker ovarium terutama pada wanita resiko tinggi antara lain:

  1. melahirkan anak minimal 1 kali
  2. menggunakan kontrasepsi oral
  3. mengangkat indung telur bila wanita telah memiliki cukup anak dan tidak ingin hamil lagi
  4. pada wanita yang memiliki riwayat keluarga sering terkena kanker payudara, maka screening mammography dan serum CA 125 harus dilakukan pada usia 30 tahun dan teratur untuk tahun-tahun selanjutnya.
  5. pemeriksaan tumor marker, USG atau CT-scan secara berkala untuk deteksi dini kanker.

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah kanker ini tetapi deteksi dini dan tindakan terapi dini dan efisien dapat mengurangi angka kematian. Karena itu para wanita harus mulai menggalakkan program pemeriksaan diri berkala ke dokter kebidanan pribadinya agar dapat memonitor kesehatan pribadi secara maksimal dan meminimalkan resiko kanker.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post