Wanita dan Endometriosis  

Minggu, 22 Juni 2008

Akhir-akhir ini, semakin banyak wanita yang menderita endometriosis atau lebih dikenal dengan “kista” pada organ reproduksinya. Sebetulnya, apakah endometriosis itu?

Endometriosis adalah jaringan yang semestinya terletak di dalam (endo) rahim (metrium) , bertumbuh di tempat lain seperti pada lapisan otot rahim, luar rahim, saluran telur, ovarium, usus, kulit, bahkan otak wanita tersebut. Jaringan yang terletak di luar tempat yang semestinya tersebut, tetap berfungsi dan berkembang sesuai fluktuasi hormonal dari siklus haid. Hal inilah yang menyebabkan rasa nyeri yang hebat saat haid, dan jumlah darah menstruasi lebih dari biasanya.

Di luar siklus haid, jaringan ini dapat berubah menjadi jaringan parut, dimana bila letaknya adalah di saluran telur atau rahim, jaringan parut ini dapat menghambat proses pembuahan dan menyebabkan kemandulan (infertilitas) pada wanita tersebut. Penyebab Endometriosis yang pasti belum diketahui, walaupun sudah ada beberapa teori yang berusaha menjelaskan penyebabnya. Faktor keturunan menjadi salah satu factor risiko terjadinya Endometriosis.

Bagaimana saya tahu bahwa saya mengidap endometriosis?
Endometriosis diduga terjadi pada wanita usia reproduksi (12-45 tahun) dengan keluhan nyeri haid yang hebat dan/atau jumlah darah menstruasi yang melebihi jumlah normal. Beberapa keluhan lain seperti nyeri saat berhubungan seksual dengan pasangan, infertilitas, nyeri berkemih, diare, sulit BAB dan mual saat menstruasi membantu menegakkan diagnosis endometriosis.

Umumnya, dokter Spesialis Kebidanan dan kandungan akan menganjurkan pasien dengan keluhan tersebut untuk melakukan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Beberapa pemeriksaan lanjutan lain adalah MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan laparoskopi digunakan untuk mengidentifikasi area lain yang terkena jaringan endometriosis, seperti nodul atau kista endometriosis. Penggunaan lain Laparoskopi adalah untuk memastikan jenis kista endometriosis, melakukan biopsy jaringan, dan untuk menyingkirkan keganasan.

Endometriosis tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa diatasi dengan beberapa pilihan terapi. Prinsip terapi Endometriosis adalah mengurangi keluhan nyeri pasien, mengecilkan atau memperlambat pertumbuhan jaringan abnormal, mempertahankan kesuburan (fertilitas) dan mencegah atau memperlambat rekurensi.
Beberapa pilihan pengobatan endometriosis adalah:

1. Pengobatan nyeri haid. Beberapa pereda nyeri yang dijual bebas dapat dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan. Pada kasus-kasus endometriosis dengan kista yang berukuran besar, anti nyeri tidak dianjurkan karena hanya menutupi gejala dan tidak mengatasi penyebab.

2. Penggunaan hormon untuk menekan ovulasi sehingga menstruasi tidak terjadi. Obat-obatan yang digunakan merupakan jenis kontrasepsi dalam bentuk pil KB, KB suntik, susuk KB, dsb. Obat-obat lain yang umum digunakan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan adalah Danazol (derivate testosterone), GnRH agonis dengan beberapa efek samping seperti rasa panas, flushing, mual-muntah yang bervariasi pada tiap individu.

3. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat kista yang berukuran besar atau sudah mengganggu fungsi organ-organ dengan gangguan terhadap aktivitas penderita. Pada beberapa kasus berat, pengangkatan rahim, saluran telur dan ovarium penderita mungkin dilakukan.

Apakah endometriosis dapat menyebabkan kanker?
Endometriosis BUKAN kanker. Pada beberapa kasus, endometriosis dijumpai bersamaan dengan beberapa jenis tumor jinak dari otot dan kelenjar pada bagian tubuh lainnya, di luar organ reproduksi.

Apa yang harus saya lakukan setelah saya tahu bahwa saya menderita endometriosis?
Anda tidak perlu khawatir. Mayoritas kasus endometriosis dapat hidup normal. Ada beberapa pandangan yang menganjurkan penderita untuk segera menikah dan memiliki anak. Karena, dalam kondisi mengandung, wanita tersebut tidak akan menstruasi dan jaringan endometriosis akan mengecil dan tidak menimbulkan keluhan.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Ca Ovarium, The Silent Lady Killer  

Kangker tentu tidak ada seorangpun yang ingin didiagnosa menderita penyakit tersebut. Akan tetapi seiring dengan gaya hidup yang semakin modern, frekuensi kemungkinan seseorang terkena kanker semakin besar. Salah satu kanker yang paling sering muncul pada wanita adalah kanker indung telur atau carcinoma ovarium. Kanker ini sulit dideteksi secara dini dan sering baru dideteksi ketika sudah menyebar ke organ tubuh lainnya. Pasien baru merasakan gejala yang membuatnya berobat ke dokter, namun hal ini sudah terlambat sehingga angka kematian menjadi lebih tinggi. Kanker ini disebut juga the silent lady killer karena merupakan penyebab kematian tertinggi pada wanita.

Ovarium adalah sepasang organ berbentuk buah almond yang terdapat di samping rahim wanita, di dekat dinding samping panggul, dan berada pada lapisan belakang ligamentum latum di belakang bawah dari saluran telur/tuba falopi. Ovarium memiliki panjang 2,5–5,0 cm dan lebar ± 1,5–3,0 cm. Ovarium terdiri dari bagian luar yang disebut cortex dimana terdapat gamet (bakal sel telur) dan bagian dalam yang disebut medulla yang banyak mengandung pembuluh darah besar dan saraf.

Secara garis besar, ovarium berfungsi sebagai :

- penghasil ovum/sel telur yang bila dibuahi oleh sperma akan berkembang menjadi calon janin

- penghasil hormon estrogen dan progesteron yang penting bagi perkembangan fisiologi normal wanita.

Kanker indung telur dapat mengenai semua wanita dari segala umur, mulai dari usia 20 hingga 80 tahun, jarang terjadi pada wanita dibawah 21 tahun. Delapan puluh persen kanker muncul pada usia diatas 40 tahun dan bila kanker muncul sesudah menopause maka hampir tiga puluh persennya adalah ganas. Kanker pada indung telur kebanyakan berasal dari sel epitel ovarium pada bagian korteks, dapat bersifat jinak, borderline, atau ganas tergantung dari seberapa jauh perbedaan antara sel asal dengan kanker (metaplasia). Berdasarkan asal sel kanker, kanker ovarium dapat dibagi menjadi :

- kistadenoma serous

- kistadenoma musinosum

- endometrioma

- mesonephroid clear cell

- fibroma termasuk tumor benner

- kista dermoid

- tumor campuran

- kanker yang tak terklasifikasikan

Kanker indung telur sering dihubungkan dengan wanita dengan angka melahirkan yang rendah dan infertile/tidak subur. Hal ini berkaitan dengan proses ovulasi lepasnya sel telur ke rahim) dalam indung telur. Pada lapisan korteks, gamet mengalami perkembangan untuk menjadi matang dan siap dilepaskan ke rahim dan hal ini terjadi setiap bulannya. Teorinya perubahan epitel korteks secara terus menerus untuk mematangkan gamet dapat memicu terjadinya mutasi spontan yang pada akhirnya menimbulkan kanker pada indung telur. Pada wanita yang hamil, proses ini terhenti untuk ± 9 bulan sehingga resiko kanker semakin turun. Faktor lain yang dapat meningkatkan resiko kanker adalah :

- menstruasi yang terlalu awal

- menopause yang terlalu terlambat.

- Factor genetic dimana dikatakan resiko tinggi terkena kanker ovarium bila ada mutasi pada gen BRCA 1 dan gen BRCA 2.

- Riwayat pernah menderita kanker payudara atau kanker lainnya pada usia muda.

- Sindroma Lynch II.

- Tidak pernah melahirkan

- Melahirkan pertama kali pada usia > 35 tahun

Gejala dan tanda pada kanker indung telur ini biasanya tidak ada (asimptomatik) untuk periode yang lama dan kalaupun muncul biasanya tidak spesifik. Pada stadium awal penyakit, gejala yang mungkin muncul antara lain :

- mengalami menstruasi yang tidak teratur seakan-akan sedang dalam masa akan menopause.

- Jika massa kanker menekan kandung kemih atau rectum maka akan timbul keluhan keinginan miksi bertambah atau sembelit.

- Mungkin timbul kembung atau sensasi seperti perut tertekan

- Nyeri, misalnya seperti nyeri saat melakukan hubungan seksual

Pada stadium lanjut, gejala yang muncul biasanya berkaitan dengan penyebaran kanker ke organ lain seperti:

- kembung

- cairan pada rongga perut (ascites)

- konstipasi (susah buang air besar)

- mual dan muntah

- wanita menjelang menopause mungkin mengeluh menstruasi yang tidak teratur dan banyak.

Tanda pasti Anda dapat mencurigai adanya kanker indung telur adalah bila teraba adanya massa (benjolan) pada panggul yang keras, tidak tegas batasnya, tidak dapat digerakkan dan bilateral, apalagi bila massa teraba hingga perut bagian atas dan ada gejala perut kembung berisi air (ascites) maka dapat dicurigai bahwa ini adalah kanker ganas. Tapi bila massa kistik (kenyal), mudah digerakkan, batasnya tegas, dan unilateral maka dapat diduga ini kanker jinak. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memastikan adanya kanker ovarium antara lain :

  1. pemeriksaan serum CA 125. Serum CA 125 merupakan tumor marker yang dapat digunakan untuk memisahkan antara kanker yang ganas dengan jinak. Akan tetapi pemeriksaan ini lebih akurat pada wanita yang telah mengalami menopause, sedangkan pada wanita yang belum menopause hasilnya diragukan.
  2. pada wanita yang belum menopause, pemeriksaan yang mungkin membantu adalah penggunaan kontrasepsi oral untuk menekan hormon kemudian dilakukan pemeriksaan berkala 2 bulan sekali. Bila massa mengecil maka itu bukan kanker dan juga sebaliknya.
  3. USG transvaginal dapat berguna untuk menemukan massa kanker di ovarium serta ganas atau tidaknya kanker.
  4. CT-scan atau MRI dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh kanker menyebar dan lokasi kanker.
  5. laparoskopi diagnostik merupakan pemeriksaan pasti untuk dapat menentukan keganasan kanker. Indikasi untuk melakukan laparoskopi antara lain :

o massa ovarium > 7 cm

o pembesaran ovarium pada masa menopause atau 1 tahun sebelum menstruasi

o pasca pemberian kontrasepsi hormonal

o tumor bilateral (kecuali kista theca lutein)

o tumor keras

o gejala torsi (tumor terputar) atau rupture (tumor pecah)

o ascites

Terapi atau pengobatan yang dapat dilakukan pada kanker ovarium sangat tergantung pada stadium kanker dan kondisi pasien saat akan dilakukan terapi. Bila kanker masih kecil dan belum menyebar maka terapi yang paling tepat adalah operatif, tapi bila sudah menyebar maka dapat dikombinasikan dengan radiotherapy (penyinaran) dan chemotherapy sesuai dengan kebijakan dokter yang menangani Anda. Hal yang lebih penting adalah second-look laparotomy yaitu tindakan operasi setelah operasi pertama untuk memastikan bahwa tidak ada sel-sel kanker yang tersisa di ovarium dan melihat respon tubuh terhadap pengobatan.

Adapun langkah-langkah untuk mengurangi resiko terkena kanker ovarium terutama pada wanita resiko tinggi antara lain:

  1. melahirkan anak minimal 1 kali
  2. menggunakan kontrasepsi oral
  3. mengangkat indung telur bila wanita telah memiliki cukup anak dan tidak ingin hamil lagi
  4. pada wanita yang memiliki riwayat keluarga sering terkena kanker payudara, maka screening mammography dan serum CA 125 harus dilakukan pada usia 30 tahun dan teratur untuk tahun-tahun selanjutnya.
  5. pemeriksaan tumor marker, USG atau CT-scan secara berkala untuk deteksi dini kanker.

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah kanker ini tetapi deteksi dini dan tindakan terapi dini dan efisien dapat mengurangi angka kematian. Karena itu para wanita harus mulai menggalakkan program pemeriksaan diri berkala ke dokter kebidanan pribadinya agar dapat memonitor kesehatan pribadi secara maksimal dan meminimalkan resiko kanker.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Rubella dan Kehamilan  

Di Indonesia, akhir-akhir ini mulai merebak kembali penyakit yang namanya Rubella. Dulu, dikatakan bahwa penyakit ini sudah semakin menurun angka kejadiannya di Indonesia. Namun, di Bogor bulan Juni lalu ditemukan 108 anak positif terkena Rubella dan telah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Sebenarnya apa sih yang disebut Rubella itu? Rubella atau yang sering disebut Campak Jerman ini adalah penyakit virus akut yang menyerang baik anak-anak maupun dewasa dengan gejala umum yang meliputi bercak kemerahan pada kulit, demam serta pembesaran kelenjar getah bening (lymphadenopathy).

Gejala
Bercak merah yang ditimbulkan biasanya mulai dari wajah lalu menyebar ke batang tubuh. Sedangkan kelenjar getah bening yang terlibat dan membesar biasanya kelenjar getah bening yang terletak di belakang telinga (postauricular), tengkuk (suboccipital) serta leher (cervical).

Dibanding anak-anak, jika virus ini menyerang orang dewasa biasanya mengalami gejala yang lebih berat. Mungkin disertai radang selaput mata (conjunctivitis), pilek yang berat (coryza) dan juga radang sendi (arthritis). Radang sendi ini lebih sering terjadi pada wanita.

Namun umumnya infeksi penyakit ini biasanya tidak menunjukan gejala klinis yang berarti. Gejala yang muncul hanya seperti lemas, tidak nafsu makan, demam sedikit. Virus ini menyebar lewat hubungan yang dekat (close contact) antar individu misalnya dengan orang yang tinggal serumah. Batuk dan bersin juga dapat membantu penyebaran virus ini jika orang tersebut sudah terjangkit.

Cegah sebelum hamil

Jika Anda merencanakan kehamilan ada baiknya Anda memeriksakan diri ke ahli kesehatan Anda berkaitan penyakit ini. Darah Andalah yang dapat menjadi petunjuk apakah Anda sudah kebal (imun) terhadap Rubella atau tidak. Jika dahulu Anda pernah terjangkit virus ini atau pernah divaksin yang mengandung komponen virus ini, maka tubuh Anda akan memberi respon dengan membentuk zat antibody untuk memhabisi virus tersebut. Jika di kemudian hari, Anda terserang virus Rubella kembali, tubuh Anda sudah mengenalinya. Dengan pengenalan ini, tubuh Anda akan cepat berespon menghabisi virus ini sebelum virus ini menimbulkan penyakit pada tubuh Anda.

Zat antibody ini lah yang dapat menjadi patokan apakah tubuh Anda cukup poten untuk kebal terhadap virus Rubella. Biasanya, antibody dalam tubuh Anda akan dites beberapa kali. Jika jumlah antibody Anda tetap dalam beberapa kali tes tersebut, menunjukan infeksi terjadi sudah lama terjadi dan Anda boleh bernafas lega untuk melanjutkan ke tahap kehamilan. Namun jika terjadi perubahan, mungkin Anda masih dalam keadaan terinfeksi. Anda dianjurkan melaksanakan pengobatan dahulu sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Namun jika hasilnya negative, berarti Anda belum pernah terkena penyakit ini dan tubuh Anda pun belum kebal terhadapnya. Maka sangat dianjurkan untuk melakukan vaksin Rubella minimal satu bulan sebelum Anda melangkah ke tahap kehamilan. Vaksin Rubella biasanya digabungkan dengan vaksin mumps dan campak yang namanya vaksin MMR (Measles, Mumps dan Rubella)

Saat Kehamilan
Jika Anda sudah terlanjur hamil, namun belum melakukan tes kekebalan terhadap Rubella, segeralah hubungi ahli kesehatan Anda. Ahli kesehatan Anda akan mengetes darah Anda seperti yang telah dibahas di atas. Jika Anda sudah kebal, Anda dapat melanjutkan kehamilan Anda dengan tenang. Namun jika Anda belum kebal, banyak hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, vaksin MMR tidak dapat diberikan jika Anda sedang hamil. Yang dapat Anda lakukan hanya menghindari sedapat mungkin terhadap terhadap paparan penyakit ini.

Hindari untuk pergi keluar ke tempat-tempat yang Anda tidak dapat pastikan penghuninya tidak terserang virus Rubella. Hindari juga untuk berpergian ke luar negri dimana di negara tersebut banyak yang terjangkit virus Rubella.

Pastikan anak-anak Anda yang lainnya juga sudah mendapatkan vaksin Rubella (MMR). Anggota keluarga yang sudah dewasa pun perlu ikut dipastikan bahwa mereka sudah kebal terhadap Rubella, jika tidak, ada kemungkinan bagi mereka untuk memaparkan kepada Anda.

Segeralah minta untuk divaksin setelah melahirkan untuk pencegahan pada kehamilan berikutnya jika Anda belum divaksin. Vaksin ini cukup aman diberikan pada saat menyusui. Hanya yang harus Anda perhatikan, Anda tidak boleh hamil kembali selama satu bulan (kurang lebih 28 hari) setelah dilakukan vaksin. Ini bagian Anda untuk mencegah kehamilan pada masa ini.

Jika paparan virus Rubella terjadi pada empat minggu pertama masa kehamilan pada ibu yang belum kebal, dapat menyebabkan infeksi pada janin yang dinamakan Congenital Rubella Syndrome (CRS). Tanda klasik yang timbul pada janin yang terinfeksi pada masa awal kehamilan adalah katarak, penyakit jantung, tuli dan gejala lainnya. Ini disebabkan pada awal kehamilan terjadi pembentukan organ-organ penting bayi.
Faktor yang paling menentukan tingkat kecacatan pada bayi adalah kapan terjadinya paparan infeksi. Jika terjadi pada 3 bulan pertama, 50% janin kemungkinan ikut terinfeksi, namun jika terjadi pada 3 bulan kedua, hanya satu per tiga bayi yang kemungkinan akan ikut terinfeksi.

Vaksin Rubella
Vaksin Rubella biasanya diberikan pada anak balita dua kali, yaitu pada umur 12-15 bulan dan 4-6 tahun. Namun jika vaksin diberikan diluar waktu rekomendasi vaksin ini pun aman asal jarak antara vaksin pertama dan kedua lebih dari 28 hari.

Vaksin Rubella ini sangat aman diberikan pada orang yang sehat. Vaksin ini sangat berguna untuk melindungi terkena Rubella terutama pada saat kehamilan. Salah satu sumber mengatakan tingkat keberhasilanya mencapai lebih dari 95%.

Mungkin akan mencul kemerahan atau bengkak atau nyeri pada tempat suntikan vaksin. Beberapa orang mungkin akan timbul demam atau bercak-bercak kemerahan. Mungkin juga menyebakan nyeri sendi dalam beberapa hari.

Yang tidak dianjurkan diberikan vaksin adalah orang-orang yang timbul gejala sulit bernafas atau kelainan kulit atau pembengkakan pada mulut setelah riwayat pemberian vaksin Rubella atau MMR sebelumnya. Tidak dianjurkan juga pada orang-orang yang memiliki penyakit yang berkaitan dengan sistem imun seperti misalnya penderita HIV AIDS.

Referensi
Gershon, Anne. Rubella (German Measles). Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th Ed. McGraw-Hill. 2005.
Wolff, Klaus, et al. Fitzpatrick’s Color & Synopsis of Clinical Dermatology. McGraw-Hill. 2005.
US Department of Health and Human Service. Measles, Mumps & Rubella Vaccines: What You Need to Know. 2003
Campak di Indonesia. www.penyakitmenular.info
Campak Jerman Serang Bogor. www.tempointeraktif.com
German Measles (Rubella) During Pregnancy. www.babycenter.com
Pregnancy and Rubella – Patient UK. www.patient.co.uk
Prevention Congenital Rubella Syndrome. www.cps.ca
Rubella (German measles) in pregnancy www.caringforkids.cps.ca
Rubella (German Measles). www.babycenter.com
Vaksinasi campak Jerman saat hamil, berbahayakah? www.penyakitmenular.info

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Komplikasi Persalinan  

Rabu, 18 Juni 2008

KETUBAN PECAH SEBELUM WAKTUNYA

Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) adalah pecahnya selaput berisi cairan ketuban yang terjadi 1 jam atau lebih sebelum terjadinya kontraksi.

Dulu, jika terjadi KPSW selalu dilakukan tindakan untuk segera melahirkan bayi guna mencegah infeksi yang bisa terjadi pada bayi maupun ibunya.
Tetapi pendekatan ini sudah tidak perlu dilakukan lagi karena resiko terjadinya infeksi bisa dikurangi dengan mengurangi frekuensi pemeriksaan dalam. 1 kali pemeriksaan dengan bantuan spekulum bisa membantu dokter dalam memastikan pecahnya selaput ketuban, memperkirakan pembukaan serviks (leher rahim) dan mengambil contoh cairan ketubah dari vagina.
Jika hasil analisa cairan ketuban menunjukkan bahwa paru-paru bayi sudah cukup matang, maka dilakukan induksi persalinan (tindakan untuk memulai proses persalinan) dan bayi dilahirkan. Jika paru-paru bayi belum matang, persalinan ditunda sampai paru-paru bayi matang.

Pada 50% kasus, persalinan bisa ditunda hanya dengan melakukan tirah baring dan mendapatkan cairan infus; beberapa kasus lainnya memerlukan obat yang bisa mencegah kontraksi rahim (misalnya magnesium sulfat yang diberikan melalui infus, suntikan atau tablet terbutalin dan kadang diberikan ritodrin melalui infus).
Ibu dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring, tetapi masih diperbolehkan ke kamar mandi. Suhu tubuh dan denyut nadinya diukur 2 kali/hari. Peningkatan suhu tubuh bisa merupakan pertanda terjadinya infeksi.
Jika terjadi infeksi, dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan.

Jika cakran ketuban tidak keluar lagi dan kontraksi berhenti, ibu diperbolehkan pulang ke rumah, tetapi tetap menjalani tirah baring dan memeriksakan dirinya 1 kali/minggu.


PERSALINAN PREMATUR

Persalinan Prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu.
Biasanya persalinan terjadi pada saat usia kehamilan mencapai 37-42 minggu.

Persalinan prematur bisa merupakan suatu proses normal yang dimulai terlalu dini atau dipicu oleh keadaan tertentu, seperti infeksi rahim atau infeksi cairan ketuban,
Sebagian besar kasus persalinan prematur penyebabnya tidak diketahui secara pasti.

Faktor resiko terjadinya persalinan prematur:
- Pernah mengalami persalinan prematur pada kehamilan terdahulu
- Kehamilan ganda (kembar 2 atau 3)
- Pernah mengalami aborsi
- Memiliki serviks yang abnormal
- Memiliki rahim yang abnormal
- Menjalani pembedahan perut pada saat hamil
- Menderita infeksi berat pada saat hamil
- Pernah mengalami perdarahan pada trimester kedua atau ketiga
- Berat badan kurang dari 50 kg
- Pernah memakai DES (dietilstilbestrol)
- Merokok sigaret atau makakai kokain
- Tidak memeriksakan kehamilan.

Persalinan prematur bisa menyebabkan kelahiran prematur. Jika dilahirkan terlalu dini, serorang bayi bisa mengalami kelainan. Bisa terjadi penyakit yang serius atau kematian karena bayi belum siap untuk hidup mandiri. Oleh karena itu, dokter akan mencoba menghentikan persalinan prematur.

Pada beberapa kasus, jika diketahui akan terjadi persalinan prematur, kelahiran bayi bisa dicegah atau ditunda. Penundaan ini akan memberikan tambahan waktu bagi bayi untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan beberapa haripun bisa menghasilkan bayi yang lebih sehat.

Jika perdarahan sulit dihentikan atau jika selaput ketuban telah pecah, maka sulit untuk menghentikan persalinan prematur.
Jika tidak terjadi perdarahan dan selaput ketuban masih ututh, biasanya dianjurkan untuk menjalani tirah baring dan cairan diberikan melalui infus. Tetapi jikapembukaan telah mencapai lebih dari 5 cm, biasanya kontraksi terus terjadi sampai bayi akhirnya lahir.

Magnesium sulfat melalui infus bisa menghentikan kontraksi pada 80% kasus, tetapi memiliki efek samping seperti denyut jantung yang cepat pada ibu, bayi atau keduanya. Bisa juga diberikan suntikan terbutalin.
Setelah persalinan prematur berhasil dihentikan, diberikan kortikosteroid (misalnya betametason) untuk membantu membukan paru-paru bayi dan mengurangi resiko gangguan pernafasan pada bayi setelah dia dilahirkan nanti (sindroma gawat pernafasan pada bayi baru lahir).


KEHAMILAN POST-MATUR & POSTMATURITAS

Kehamilan Post-matur adalah persalinan yang berlangsung sampai lebih dari 42 minggu.
Postmaturitas adalah suatu sindroma dimana plasenta mulai berhenti berfungsi secara normal pada kehamilan post-matur dan hal ini membahayakan janin.

Menentukan apakah kehamilan telah lewat dari 42 minggu tidak selalu mudah, karena saat terjadinya pembuhan tidak selalu dapat ditentukan secara pasti. Kadang saat pembuahan tidak dapat ditentukan karena siklus menstruasi yang tidak teratur.
Pada awal kehamilan bisa dilakukan pemeriksaan USG untuk membantu menentukan usia kehamilan. Pemeriksaan USG berikutnya dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 32 minggu (antara 18-22 minggu) untuk mengukur diameter kepala janin; hal ini bisa membantu memastikan usia kehamilan.

Jika kehamilan berlangsung sampai lebih dari 42 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir, dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui tanda-tanda postmaturitas pada ibu dan janin, yaitu penciutan rahim dan berkurangnya gerakan janin.
Pemeriksaan bisa dimulai pada usia kehamilan 41 minggu, untuk menilai gerakan dan denyut jangung janin serta jumlah cairan ketuban (yang menurun secara drastis pada kehamilan post-matur).
Untuk memperkuat diagnosis postmaturitas, bisa dilakukan amniosentesis (pengambilan dan analisa cairan ketuban). Salah satu tanda dari postmaturitas adalah air ketuban yang berwarna kehijauan yang berasal dari mekonium (tinja fetus yang pertama); hal ini menunjukkan keadaan gawat janin.

Selama hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda-tanda postmaturitas, maka kehamilan post-matur masih mungkin dilanjutkan. Tetapi jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda-tanda postmaturitas, maka segera dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan.
Jika serviks belum dapat dilalui oleh janin, maka dilakukan operasi sesar.


TIDAK ADANYA KEMAJUAN DALAM PERSALINAN

Setiap jam seharusnya serviks membukan minimal selebar 1 cm dan kepala janin seharusnya turun ke dalam rongga panggul minimal sebanyak 1 cm. Jika hal tersebut tidak terjadi, mungkin janin terlalu besar untuk melewati jalan lahir dan perlu dilakukan persalinan dengan bantuan forseps atau operasi sesar.
Jika jalan lahir cukup lebar tetapi persalinan tidak maju, maka diberikan oksitosin melalui infus untuk merangsang kontraksi rahim yang lebih kuat.
Jika setelah pemberian oksitosin persalinan tidak juga maju, maka dilakukan operasi sesar.


DENYUT JANTUNG YG ABNORMAL

Selama persalinan, denyut jantung janin dimonitor setiap 15 menit dengan stetoskop janin (fetoskop) atau dimonitor terus dengan pemantau denyut jantung elektronik.
Pemantauan denyut jantung janin merupakan cara yang paling mudah untuk mengetahui adanya gawat janin.

Jika terdengar denyut jantung yang abnormal, dilakukan tindakan korektif, seperti memberikan oksigen kepada ibu, menambah jumlah cairan infus dan meminta ibu untuk berbaring miring ke kiri.
Jika tindakan tersebut tidak berhasil memperbaiki denyut jantung yang abnormal, maka dilakukan persalinan forseps atau operasi sesar.


KELAINAN POSISI JANIN

Yang dimaksud dengan posisi janin di dalam rahim adalah arah yang dihadapi oleh janin, sedangkan letak janin adalah bagian tubuh janin yang terendah.
Kombinasi yang paling sering ditemukan dan paling aman adalah menghadap ke punggung ibu dengan letak kepala, dimana leher tertekuk ke depan, dagu menempel di dada dan kedua lengan melipat di dada.
Jika janin tidak berada dalam posisi atau letak tersebut, maka persalinan bisa menjadi sulit dan mungkin persalinan tidak dapat dilakukan melalui vagina.


KEMBAR

Kehamilan kembar bisa diketahui pada pemeriksaan USG atau dengan pemantau elektronik (dimana akan terdengar 2 denyut jantung yang berbeda).
Kembar menyebabkan rahim sangat teregang dan rahim yang sangat teregang cenderung unuk mulai mengalami kontraksi sebelum kehamilan mencapai usia yang matang. Akibatnya bayi kembar sering dilahirkan secara prematur dan kecil.

Posisi dan letak janin di dalam rahim bisa berlainan, sehingga persalinan bisa menjadi sulit.
Kontraksi rahim setelah lahirnya bayi pertama cenderung menyebabkan terlepasnya plasenta dari bayi kedua. Akibatnya, bayi kedua cenderung mengalami masalah selama persalinan dan memiliki resiko mengalami kelainan dan kematian yang lebih tinggi.

Kadang setelah persalinan, rahim yang terlalu teregang tidak dapat berkontraksi dengan baik sehingga ibu bisa mengalami perdarahan.


DISTOSIA BAHU

Distosia Bahu adalah suatu komplikasi yang jarang terjadi, dimana pada letak kepala, salah satu bahu bayi tersangkut pada tulang kemaluan dan tertahan di dalam jalan lahir.

Segera dilakukan berbagai tindakan untuk membebaskan bahu sehingga bayi bisa dilahirkan melalui vagina.
Jika tindakan tersebut gagal, kadang bayi dapat didorong kembali ke dalam vagina dan dilahirkan melalui operasi sesar.


PROLAPSUS KORDA UMBILIKALIS

Prolapsus Korda Umbilikalis adalah suatu keadaan dimana korda umbilikal (tali pusar) mendahului bayi, yaitu keluar dari jalan lahir.

Pada keadaan ini, jika bayi mulai memasuki jalan lahir, tali pusar akan tertekan sehingga aliran darah ke bayi terhenti.
Prolapsus korda umbilikalis bisa terjadi secara nyata atau tersembunyi.

Pada prolapsus yang nyata, selaput ketuban telah pecah dan tali pusar menonjol ke dalam vagina sebelum bayi turun ke jalan lahir.
Prolapsus yang nyata biasanya terjadi jika bayi berada dalam letak bokong (tetapi bisa juga terjadi pada letak kepala), terutama jika selaput telah pecah sebelum waktunya atau jika janin belum turun ke panggul ibu.

Untuk mencegah terjadinya cedera pada janin akibat terhentinya aliran darah ke janin, maka segera dilakukan persalinan, biasanya melalui operasi sesar.

Pada prolapsus tersembunyi, selaput ketuban tetap ututh dan tali pusar berada di depan janin atau terperangkap di depan bahu janin. Biasanya keadaan ini diketahui melalui denyut jantung janin yang abnormal.
Prolapsus tersembunyi bisa diatasi dengan cara merubah posisi ibu atau mengangkat kepala janin untuk menghilangkan tekanan pada tali pusar. Kadang perlu dilakukan operasi sesar.


EMBOLI CAIRAN KETUBAN

Emboli Cairan Ketuban adalah penyumbatan arteri pulmoner (arteri paru-paru) ibu oleh cairan ketuban.

Suatu emboli adalah suatu massa dari bahan asing yang terdapat di dalam pembuluh darah. Meskipun sangat jarang terjadi, emboli bisa terbentuk dari cairan ketuban.
Emboli ini sampai ke paru-paru ibu dan menyumbat arteri, penyumbatan ini disebut emboli pulmoner.

Emboli pulmoner bisa menyebabkan denyut jantung yang cepat, irama jantung yang tidak teratur, kolaps, syok atau bahkan henti jantung dan kematian.


PERDARAHAN RAHIM

Perdarahan hebat dari rahim setelah persalinan merupakan masalah yang serius. Biasanya selama persalinan ibu kehilangan darah sebanyak 0,5 liter.
Ketika plasenta lepas dari rahim, pembuluh darah rahim terbuka. Kontraksi rahim membantu menutupnya pembuluh darah ini sampai mereka mengalami pemulihan lengkap.

Jika setelah proses persalinan rahim tidak berkontraksi atau jika sejumlah kecil plasenta tertinggal di dalam rahim sehingg rahim tidak dapat berkontraksi, maka darah yang hilang akan lebih banyak.
Robekan pada vagina atau serviks juga bisa menyebabkan perdarahan hebat.


PROSEDUR

Jika selama proses persalinan berlangsung terjadi komplikasi, maka diambil beberapa tindkan sepserti induksi persalinan, persalinan dengan bantuan forseps atau ekstraktor vakum atau operasi sesar.

Induksi Persalinan

Induksi Persalinan adalah pencetusan persalinan buatan.
Augmentasi persalinan menggunakan teknik dan obat yang sama dengan induksi persalinan, tetapi dilakukan setelah kontraksi dimulai secara spontan.

Biasanya induksi persalinan hanya dilakukan jika ibu memiliki masalah kebidanan atau jika ibu maupun bayinya memiliki masalah medis.
Untuk menentukan kematangan janin secara akurat, sebelum dilakukan induksi, bisa dilakukan amniosentesis.

Pada induksi persalinan biasanya digunakan oksitosin, yaitu suatu hormon yang menyebabkan kontraksi rahim menjadi lebih kuat. Hormon ini diberikan melalui infus sehingga jumlah obat yang diberikan dapat diketahui secara pasti.
Selama induksi berlangsung, denyut jantung janin dipantau secara ketat dengan menggunakan alat pemantau elektronik.
Jika induksi tidak menyebabkan kemajuan dalam persalinan, maka dilakukan operasi sesar.

Pada augmentasi persalinan diberikan oksitosin sehingga kontraksi rahim bisa secara efektif mendorong janin melewati jalan lahir.
Tetapi jika persalinan masih dalam fase inisial (dimana serviks belum terlalu membuka dan kontraksi masih tidak teratur), lebih baik augmentasi ditunda dengan membiarkan ibu beristirahat dan berjalan-jalan.

Kadang terjadikontraksi yang terlalu kuat, terlalu sering atau terlalu kuat dan terlalu sering. Keadaan ini disebut kontraksi disfungsional hipertonik dan sulit untuk dikendalikan.
Jika hal ini terjadi akibat pemakaian oksitosin, maka pemberian oksitosin segera dihentikan. Diberikan obat pereda nyeri atau terbutalin maupun ritodrin untuk membantu menghentikan maupun memperlambat kontraksi.


Forseps & Ekstraktor Vakum

Forseps adalah alat bedah yang terbuat dari logam, bentuknya menyerupai tang, ujungnya bundar sesuai denga bentuk kepala janin.
Ekstraktor Vakum adalah suatu mangkuk kecil yang terbuat dari bahan yang menyerupai karet dan dihubungkan dengan sebuah vakum (ruang hampa udara), yang dimasukkan ke dalam vagina dan ditempelkan pada kepala janin.

Forseps kadang digunakan untuk membantu persalinan atau memandu kepala janin. Forseps perlu digunakan jika janin berada dalam keadaan gawat atau posisinya abnormal atau jika persalinan berlangsung lama (persalinan yang berlangsung lama kadang terjadi jika digunakan anestesi yang menyebabkan ibu tidak dapat mengedan secara adekuat).

Ekstraktor vakum adalah suatu alat yang menerapkan pemompaan pada kepala janin. Dengan alat ini, bayi ditarik keluar secara perlahan.

Pemakaian forseps bisa menyebabkan memar pada wajah bayi atau menyebabkan robekan pada vagina ibu; sedangkan ekstraktor vakum bisa menyebabkan robekan pada kulit kepala janian. Tetapi cedera tersebut jarang terjadi.

Operasi Sesar

Operasi Sesar adalah operasi untuk melahirkan/mengeluarkan bayi dari rahim ibu dengan cara membuat sayatan pada perut dan rahim ibu.

Operasi sesar biasanya dihadiri oleh dokter ahli kebidanan, ahli anestesi, perawat dan ahli neonatologi atau seseorang yang ahli dalam melakukan resusitasi.
Segera setelah menjalani operasi sesar, ibu dianjurkan untuk berjalan guna mencegah terjadinya emboli paru (penyumbatan arteri paru oleh bekuan darah yang berasal dari tungkai atau panggul).
Rasa nyeri yang timbul setelah operasi sesar lebih hebat dibandingkan dengan nyeri akibat persalinan melalui vagina.

Sayatan bisa dibuat di rahim bagian atas (insisi klasik) atau di rahim bagian bawah (insisi segmen bawah).
Insisi klasik digunakan hanya jika plasenta berada dalam posisi yang abnormal (plasenta previa) atau jika janin berada dalam posisi horisontal. Perdarahan yang terjadi lebih banyak karena rahim bagian atas lebih banyak mengandung pembuluh darah dan jaringan yang terbentuk lebih lemah sehingga kemungkinan akan terbuka pada kehamilan berikutnya.
Insisi segmen bawah bisa dibuat secara horisontal maupun vertikal, kebanyakan dibuat secara horisontal. Insisi vertikal biasanya dibuat jika janin berada dalam posisi yang abnormal.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


"ILMU KEBIDANAN"  

Rabu, 04 Juni 2008

PERDARAHAN ANTEPARTUM

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu.

Klasifikasi perdarahan antepartum yaitu :
1. Plasenta previa

2. Solusio plasenta

3. Perdarahan antepartum yang tidak jelas sumbernya (idiopatik)

Ciri-ciri plasenta previa :

1. Perdarahan tanpa nyeri

2. Perdarahan berulang

3. Warna perdarahan merah segar

4. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah

5. Timbulnya perlahan-lahan

6. Waktu terjadinya saat hamil

7. His biasanya tidak ada

8. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi

9. Denyut jantung janin ada

10. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina

11. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul

12. Presentasi mungkin abnormal.

Ciri-ciri solusio plasenta :

1. Perdarahan dengan nyeri

2. Perdarahan tidak berulang

3. Warna perdarahan merah coklat

4. Adanya anemia dan renjatan yang tidak sesuai dengan keluarnya darah

5. Timbulnya tiba-tiba

6. Waktu terjadinya saat hamil inpartu

7. His ada

8. Rasa tegang saat palpasi

9. Denyut jantung janin biasanya tidak ada

10. Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina

11. Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul

12. Tidak berhubungan dengan presentasi

Plasenta Previa

Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum). (2)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu : (2)

1. Plasenta previa totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta.

2. Plasenta previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup

oleh plasenta.

3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir

pembukaan jalan lahir.

4. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir

pembukaan jalan lahir.

Etiologi plasenta previa belum jelas.

Diagnosis plasenta previa :

1. Anamnesis : adanya perdarahan per vaginam pada kehamilan lebih 20 minggu

dan berlangsung tanpa sebab.

2. Pemeriksaan luar : sering ditemukan kelainan letak. Bila letak kepala maka

kepala belum masuk pintu atas panggul.

3. Inspekulo : adanya darah dari ostium uteri eksternum.

4. USG untuk menentukan letak plasenta.

5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan perabaan langsung melalui

kanalis servikalis tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat

menyebabkan perdarahan yang banyak. Oleh karena itu cara ini hanya dilakukan

diatas meja operasi.

Penatalaksanaan plasenta previa :

1. Konservatif bila :

a. Kehamilan kurang 37 minggu.

b. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

c. Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh

perjalanan selama 15 menit).

2. Penanganan aktif bila :

a. Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan.

b. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.

c. Anak mati

Perawatan konservatif berupa :

- Istirahat.

- Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia.

- Memberikan antibiotik bila ada indikasii.

- Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit.

Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.

Penanganan aktif berupa :

- Persalinan per vaginam.

- Persalinan per abdominal.

Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan :

1. Plasenta previa marginalis

2. Plasenta previa letak rendah

3. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang,

kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya

sedikit perdarahan maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin

pada partus per vaginam bila gagal drips (sesuai dengan protap terminasi

kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio sesar.

Indikasi melakukan seksio sesar :

- Plasenta previa totalis

- Perdarahan banyak tanpa henti.

- Presentase abnormal.

- Panggul sempit.

- Keadaan serviks tidak menguntungkan (beelum matang).

- Gawat janin

Pada keadaan dimana tidak memungkinkan dilakukan seksio sesar maka lakukan pemasangan cunam Willet atau versi Braxton Hicks.

Solusio Plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. (2)

Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu :

1. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda

renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar

fibrinogen plasma lebih 120 mg%.

2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan,

gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian

permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.

3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin

mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.

Etiologi solusio plasenta belum jelas.

Penatalaksanaan solusio plasenta :
Tergantung dari berat ringannya kasus. Pada solusio plasenta ringan dilakukan istirahat, pemberian sedatif lalu tentukan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. Bila proses berhenti secara berangsur, penderita dimobilisasi. Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb, fibrinogen, hematokrit dan trombosit.

Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi renjatan, memperbaiki anemia, menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. Penatalaksanaannya meliputi :

1. Pemberian transfusi darah

2. Pemecahan ketuban (amniotomi)

3. Pemberian infus oksitosin

4. Kalau perlu dilakukan seksio sesar.

Bila diagnosa solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan, berarti perdarahan yang terjadi minimal 1000 cc sehingga transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus oksitosin 5 UI dalam 500 cc dekstrose 5 %.

Seksio sesar dilakukan bila :

1. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam.

2. Perdarahan banyak.

3. Pembukaan tidak ada atau kurang 4 cm.

4. Panggul sempit.

5. Letak lintang.

6. Pre eklampsia berat.

7. Pelvik score kurang 5.

Vasa Previa

Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. (2)

Etiologi vasa previa belum jelas.

Diagnosis vasa previa :

Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan, deselerasi atau bradikardi, khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta hapusan darah tepi.

Penatalaksanaan vasa previa :

Sangat bergantung pada status janin. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin, tentukan lebih dahulu umur kehamilan, ukuran janin, maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera namun bila janin sudah meninggal atau imatur, dilakukan persalinan pervaginam.

Daftar Pustaka

1. Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Perdarahan

Antepartum. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bag. I. Jakarta.

1991 : 9-13.

2. Gasong MS, Hartono E, Moerniaeni N, Rambulangi J. Penatalaksanaan Perdarahan

Antepartum. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS, Ujung Pandang, 1997.

Sumber :

Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi, dr. I.M.S. Murah Manoe, Sp.OG., dr. Syahrul Rauf, Sp.OG., dr. Hendrie Usmany, Sp.OG. (editors). Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Rumah Sakit Umum Pusat, dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, 1999.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


“iLmu Kebidanan (Obstetri)”  

Selasa, 03 Juni 2008

Obstetri merupakan cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan persalinan, hal-hal yang mendahuluinya dan gejala-gejala sisanya (Oxford English Dictionary, 1933). Obstetri terutama membahas tentang fenomena dan penatalaksanaan kehamilan, persalinan puerperium baik pada keadaan normal maupun abnormal. Nama lain obstetri adalah mid wifery.

Tujuan obstetri yaitu agar supaya setiap kehamilan yang diharapkan dan berpuncak pada ibu dan bayi yang sehat. Juga berusaha keras mengecilkan jumlah kematian wanita dan bayi sebagai akibat proses reproduksi atau jumlah kecacatan fisik, intelektual dan emosional yang diakibatkannya.

Statistik Vital Obstetri

Statistik vital obstetri meliputi:
1. Kelahiran
2. Angka kelahiran
3. Angka fertilitas
4. Kelahiran hidup
5. Lahir mati (still birth)
6. Kematian neonatal
7. Angka lahir mati
8. Angka kematian janin (sama dengan angka lahir mati)
9. Angka kematian neonatal
10. Angka kematian perinatal
11. Berat badan lahir rendah
12. Bayi cukup bulan (term infant)
13. Bayi kurang bulan (prematur)
14. Bayi lewat bulan (post term)
15. Abortus
16. Kematian ibu langsung (direct maternal death)
17. Kematian ibu tak langsung (indirect maternal death)
18. Kematian non maternal
19. Angka kematian ibu atau mortalitas ibu (maternal death rate atau maternal
mortality).

Kelahiran

Kelahiran adalah ekspulsi atau ekstraksi lengkap seorang janin dari ibu tanpa memperhatikan apakah tali pusatnya telah terpotong atau plasentanya masih berhubungan. Berat badan lahir adalah sama atau lebih 500 gram, panjang badan lahir adalah sama atau lebih 25 cm, dan usia kehamilan sama atau lebih 20 minggu.

Angka Kelahiran

Angka kelahiran adalah jumlah kelahiran per 1000 penduduk.

Angka Fertilitas

Angka fertilitas adalah jumlah kelahiran hidup per 1000 populasi wanita usia 15-44 tahun.

Kelahiran Hidup

Tanda utama kelahiran hidup adalah neonatus dapat bernapas. Tanda-tanda kehidupan lainnya meliputi denyut jantung dan gerakan spontan yang jelas dari otot volunter.

Lahir Mati (Still Birth)

Lahir mati ditandai oleh tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan pada saat atau setelah kelahiran.

Kematian Neonatal

Kematian neonatal terdiri atas kematian neonatal dini dan kematian neonatal lanjut. Kematian neonatal dini adalah kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup dalam 7 hari setelah kelahiran. Kematian neonatal lanjut adalah kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup lebih 7 hari sampai kurang 29 hari.

Angka Lahir Mati

Angka lahir mati adalah jumlah bayi yang dilahirkan mati per 1000 bayi yang lahir.

Angka Kematian Neonatal

Angka kematian neonatal adalah jumlah kematian neonatal per 1000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Perinatal

Angka kematian perinatal adalah jumlah bayi lahir mati ditambah kematian neonatal per 1000 kelahiran total.

Berat Badan Lahir Rendah

Berat badan lahir rendah adalah berat badan lahir kurang 2500 gram.

Bayi Cukup Bulan

Bayi cukup bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan 37-42 minggu atau 260-294 hari.

Bayi Kurang Bulan (Prematur)

Bayi kurang bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan kurang 37 minggu.

Bayi Lewat Bulan

Bayi lewat bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan lebih 42 minggu.

Abortus

Abortus adalah pengambilan atau pengeluaran janin atau embrio dari uterus selama paruh pertama masa kehamilan (20 minggu atau kurang) atau berat badan lahir kurang 500 gram atau panjang badan lahir 25 cm atau kurang.

Kematian Ibu Langsung

Kematian ibu langsung disebabkan komplikasi obstetri dari kehamilan, persalinan atau puerperium dan akibat intervensi, kelahiran, dan terapi tidak tepat.

Kematian Ibu Tak Langsung

Kematian ibu tak langsung disebabkan oleh penyakit yang timbul selama kehamilan, persalinan atau puerperium dan diperberat oleh adaptasi fisiologis ibu terhadap kehamilan. Misalnya kematian ibu karena komplikasi stenosis mitral.

Kematian Non Maternal

Kematian non maternal disebabkan oleh kecelakaan atau faktor kebetulan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kehamilan.

Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000 kelahiran hidup.

Sebab-sebab umum kematian ibu yaitu :
1. Perdarahan
2. Hipertensi
3. Infeksi

Perdarahan

Perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas perdarahan post partum, perdarahan berkaitan abortus, perdarahan akibat kehamilan ektopik, perdarahan akibat lokasi plasenta abnormal atau ablasio plasenta (plasenta previa dan absupsio plasenta), dan perdarahan karena ruptur uteri.

Hipertensi

Hipertensi yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas hipertensi yang diinduksi kehamilan dan hipertensi yang diperberat kehamilan. Hipertensi umumnya disertai edema dan proteinuria (pre eklamsia). Pada kasus berat disertai oleh kejang-kejang dan koma (eklamsia).

Infeksi

Infeksi nifas atau infeksi panggul post partum biasanya dimulai oleh infeksi uterus atau parametrium tetapi kadang-kadang meluas dan menyebabkan peritonitis, tromboflebitis dan bakteriemia.

Alasan menurunnya angka kematian ibu :
- Transfusi darah
- Anti mikroba
- Pemeliharaan cairan elektrolit, keseimbanngan asam-basa pada komplikasi-
komplikasi serius kehamilan dan persalinan.

Kematian reproduktif adalah kematian akibat kehamilan dan penggunaan teknik-teknik untuk mencegah kehamilan (teknik kontrasepsi).

Kematian Perinatal

Kematian neonatus yang terbanyak adalah :
1. Berat badan lahir rendah
2. Cedera susunan saraf pusat akibat hipoksia in utero dan cedera traumatik
selama persalinan dan kelahiran
3. Malformasi kongenital

Sumber :
Cunningham, Mac Donald, Gant. Obstetri Williams, ed. ke-18. dr. Joko Suyono & dr. Andry Hartono (penerj.). Jakarta : EGC.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


"Bayi Prematur, Ibu Jantungan"  

KapanLagi.com - Selang beberapa dekade berlalu, para wanita yang melahirkan bayi yang belum cukup umur (prematur) mempunyai kaitan dengan meningkatnya resiko bagi para ibu tersebut, yaitu resiko dapat terkena penyakit gangguan pembuluh darah jantung.

Dalam menyampaikan laporan hasil penelitian terkini ilmuwan dari Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, Dr.Janet Catov dan rekan-rekan sejawatnya membenarkan adanya kaitan antara melahirkan bayi prematur dengan gangguan masalah jantung bagi para ibu tersebut dan kelompok ilmuwan itu mencari tahu apakah hal itu terjadi setelah peristiwa melahirkan bayi prematur dengan selisih waktu yang cukup lama.

Kelompok ilmuwan meneliti data dari 446 wanita dengan batas usia 80 tahun yang ikut serta dalam penelitian wanita usia lanjut dan kesehatannya.

6% dilaporkan pernah melahirkan bayi prematur dan hal itu terjadi pada 57 tahun berselang sebelumnya, di mana 9% di antara para wanita tersebut melahirkan bayi dengan berat badan tercatat 2500 gram dan 4% di antaranya melahirkan bayi prematur dengan bobot badan yang kurang dari batas berat normal.

Setelah melakukan pertimbangan dengan penyesuaian untuk faktor-faktor antara lain apakah kaum wanita tersebut menggunakan obat-obatan yang melindungi jantung dan menimbang usia mereka, ilmuwan menemukan seorang wanita yang pernah melahirkan bayi prematur lebih dari dua kali membuka peluang lebar untuk terkena penyakit jantung dibandingkan dengan perempuan yang sama sekali tidak melahirkan bayi prematur.

“Penelitian kami menemukan adanya kemungkinan meningkatnya resiko bagi wanita yang melahirkan bayi prematur untuk terkena penyakit cardiovasculer selang berpuluh-puluh tahun kemudian,” kata Catov.

“Walaupun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mempertegas hasil penemuan tersebut dan memahami mekanisme antara dua keadaan yang berkaitan satu sama lain, yang baru tampak dampaknya setelah beberapa puluh tahun kemudian,” katanya.

“Melahirkan bayi prematur dapat dipakai sebagai petunjuk bagi para wanita untuk melakukan screening awal serta merubah pola gaya hidup untuk meningkatkan kesehatan jantung mereka,” kata Catov.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


"Gemuk Bikin Kehamilan Beresiko"  

http://www.kapanlagi.com/p/ibu_hamil.jpg
KapanLagi.com - Sebuah penelitian di Inggris menemukan wanita yang kelebihan berat badan pada trimester pertama kehamilan maupun yang berat badannya melonjak naik, punya potensi lebih besar akan hamil lebih lama serta mengalami komplikasi.

Dr Fiona C. Denison dari Universitas Edinburgh, Inggris, dan para koleganya, menganalisis data dari Swedish Medical Birth Register pada perempuan yang melahirkan antara tahun 1998 dan 2002.

Dari 143.519 kehamilan, 6,8% melahirkan dengan “tanggal mundur” lebih dari 42 pekan. Padahal, kehamilan normal berlangsung selama 40 pekan.

Dari data tersebut terungkap bahwa kehamilan yang melewati masa normal, lebih banyak dialami ibu hamil yang pada trimester pertama memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi, atau mereka yang berat badannya melonjak tinggi saat hamil.

Kelebihan berat badan atau obesitas saat trimester pertama dihubungkan dengan kemungkinan yang makin kecil untuk melahirkan secara spontan pada masa normal.

Selain itu, obesitas dihubungkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelahiran mati, diabetes yang terkait kehamilan, dan operasi caesar.

Bagaimana menghindari tingginya tingkat masa tumbuh pada trimester pertama, atau menghindari berat badan melonjak tinggi pada saat hamil?

Jawabannya adalah gaya hidup sehat, yakni beraktivitas fisik secara proporsional dan makan makanan sehat. Dengan pola ini, maka mereka yang sudah terlanjur mengalami penambahan berat badan tinggi masih memiliki harapan untuk melahirkan secara normal sesuai dengan hitungan masa kehamilan dan bebas dari kemungkinan komplikasi.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


“TENTANG KEBIDANAN”  

Apakah Yang Dimaksud dengan Kebidanan?Kebidanan adalah bagian integral dari sistim kesehatan dan berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pendidikan, praktek dan kode etik bidan dimana dalam memberikan pelayanannya mengyakini bahwa kehamilan dan persalinan adalah suatu proses fisiologi normal dan bukan merupakan penyakit, walaupun pada beberapa kasus mungkin berkomplikasi sejak awal karena kondisi tertentu atau komplikasi bisa timbul kemudian. Fungsi kebidanan adalah untuk memastikan kesejahteraan ibu dan janin / bayinya, bermitra dengan perempuan, menghormati martabat dan memberdayakan segala potensi yang ada padanya.

Apakah Yang Dimaksud dengan Praktek Kebidanan ?

Praktek Kebidanan adalah asuhan yang diberikan oleh bidan secara mandiri baik pada perempuan yang menyangkut proses reproduksi, kesejahteraan ibu dan janin / bayinya, masa antara dalam lingkup praktek kebidanan juga termasuk pendidikan kesehatan dalam hal proses reproduksi untuk keluarga dan komunitasnya.
Praktek kebidanan berdasarkan prinsip kemitraan dengan perempuan, bersifat holistik dan menyatukannya dengan pemahaman akan pengaruh sosial, emosional, budaya, spiritual, psikologi dan fisik dari pengalaman reproduksinya.
Praktek kebidanan bertujuan menurunkan / menekan mortalitas dan morbilitas ibu dan bayi yang berdasarkan ilmu-ilmu kebidanan, kesehatan, medis dan sosial untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan ibu dan janin / bayinya.

Apakah yang Dimaksud dengan Asuhan Kebidanan ?

Asuhan Kebidanan: Adalah prosedur tindakan yang dilakukankan oleh bidan sesuai dengan wewenang dalam lingkup prakteknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan, dengan memperhatikan pengaruh - pengaruh sosial, budaya, psikologis, emosional, spiritual, fisik, etika dan kode etik serta hubungan interpersonal dan hak dalam mengambil keputusan dengan prinsip kemitraan dengan perempuan dan mengutamakan keamanan ibu, janin / bayi dan penolong serta kepuasan perempuan dan keluarganya. Asuhan kebidanan diberikan dengan mempraktikan prinsip-prinsip bela rasa, kompetensi, suara hati, saling percaya dan komitment untuk memelihara serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin / bayinya.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post